Aku dan Calon Istriku (9 Hari lagi)
*serius mode*
Mulai saat ini aku akan coba ceritakan sedikit pengalamanku bagaimana detik-detik menghadapi pernikahan, siapa tau ini akan menjadikan pelajaran bagi teman-teman melangsungkan ke jenjang pernikahan juga.
untuk memulainya aku akan menceritakan sedikit siapa aku dan siapa calon istriku?
aku: konyol, suka iseng, aneh, IT banget, tapi yg paling penting ganteng donk
*narcis mode*
calonku: kebalikan dari point-ku diatas, kecuali point terakhir(disesuaikan karena cewek ya jadi cantik-lah) *narcis lagi*
dari kedua sifat diatas, aku dan calonku selalu mempunyai sifat yang bersebrangan, sering kali kita berbeda pendapat dalam melakukan ini dan itu.
kalau aku baca blog yg pernah kukirim di “Buat yang belum, akan dan telah menikah“. kaya’nya cocok banget dengan pengalaman kita berdua,
tapi hal ini memang sering terjadi pada setiap pasangan suami istri, selalu tidak sejalan. tapi dengan membaca kiriman-kiriman doa restu dari teman-temanku diseluruh dunia(cyber)
hatiku semakin mantap karena memang nikah itu tidak mudah, harus sering mengalah, enaknya ga seberapa(tapi wueeeeeeeeeenak banget), saling menjaga perasaan dsb.
insya allah, tulisan teman-temanku tersebut akan kuabadikan supaya bisa kuingat selalu doa-doa mereka semua.
Ketemu dimana?
Ini sering terlontarkan oleh teman-temanku, mungkin mereka melihat bahwa aku bukan tipe seseorang yang bisa menggombal, merayu apalagi menggaet wanita
biasanya pertanyaan diatas kujawab asal saja
“dijalan” ato “dipinggir kuburan” (memang rumahnya dulu disamping kuburan
)
Bagaimana tau kalo berjodoh?
Namanya juga jodoh, hanya Allah yang tau.
bagaimana aku tau? jujur aku sama sekali tidak tau, tetapi ada cara yang kutau untuk mengetahuinya. yaitu selalu beristikhoroh dan berdoa. oya boleh juga menggunakan cara doanya bang roni untuk mencari jodoh
“aku coba nyaranin, jika akan menikah cobalah istikhoroh karena dengan cara ini hati kita akan mantap mengetahui berjodoh atau tidak”.
Kalo masalah cari jodoh gampang sekali, ini sering kuajarkan pada teman-temanku.
caranya : siapkan 100 “peluru” dan “tembakkan” ke 100 wanita , masa’ sih dari 100 “peluru” tersebut tidak ada yang terkena pas di”jantungnya”
jika ternyata meleset.
wah sial banget deh, tapi jangan menyerah tingkatkan lagi dengan mempersiapkan 1000 “peluru” dan terus aktif & progresive sampe tepat sasaran.mudah kan?? tenang saja “peluru”nya kan gratis, hanya saja siapkan energi. hehehe, oya caraku ini belum pernah kuterapkan karena aku hanya mempersiapkan satu peluru :p
9 hari remaining:
Masih deg-degan, bukan deg-degan gara-gara siap apa belum. cuman deg-degan takut acara-ku nggak sukses dan ada kendala ditengah jalan.
tingkat deg-degannya saat ini hampir sama ketika membaca pengumuman UMPTN pertama pada jam 12 malam (teringat masa muda dulu, cari-cari koran untuk tau ketrima apa nggak ya aku)
kesiapan saat ini, undangan sudah disebar hampir 70% beberapa teman dekat & guru-guruku belum kukasih tau langsung secara lisan. tapi persiapan alhamdulillah masih belum ada kendala,
Souvenir, baju resepsi calonku sudah jadi semua, tinggal punyaku dan saudara-saudaraku,menghubungi katering juga sudah ok, kwade juga sudah terbayarkan 50%.
“Sekalian promosi : desainer souvenir, baju akad dan resepsi adalah ibuku sendiri, dirumahku ada boutique muslimah yang mempunyai karyawan sekitar 10 orang dan pelanggan dari sabang sampai merauke bahkan sampe keluar negeri. harga menengah hasil kualitas ekspor”
ho ho ho… kon iku arep rabi ga cerita2 nang kancamu sing nang Jakarta.
Sebenernya cuma butuh satu peluru, yang paling menentukan adalah bagaimana kita menembakkannya. Satu peluru di tangan sniper akan jauh lebih bermanfaat ketimbang 100 peluru di tangan penembak amatir.
Yo wis, pandongaku wae Ngut,semoga dadi keluarga sing sakinah mawaddah wa rahmah
heheh sorry Di, kabeh ono wayahe. ngko yo tak ceritakno kok.
btw, mengenai pendapatmu. kaya filem the patriot, ketika 2 orang anak dari Benjamin Martin menyelamatkan kakaknya yang waktu itu sedang dalam perjalanan untuk menjadi tawanan, selalu diajarkan oleh bapaknya “Miss Small Aim Small“. tapi masalahnya Di, kita bukan sniper, untuk menjadi sniper mulanya juga diperlukan banyak sekali ‘peluru-peluru’ yang harus berterbangan kesana kemari. hehehe. matur nuwun pandungane.
Wah, mas kayaknya ada satu yang belum diceritakan nih. Proses ngelamarnya gimana? bagi ilmu dong :p
masak tau tau dateng ke bapaknya terus langsung bilang “pak, anakmu boleh tak nikahi nggak?” :p kan malah ajur kabeh nek ngono
#Mardun
. tapi yang jelas, seperti jarene wong2 biyen. “Diam dan Senyum”
masalahe mardi, awak ndewor waktu itu ga datang karena lagi dijakarta, kerja. jadi ga punya pengalaman masalah ini
wah kebetulan aku juga lagi cari kebaya muslimah untuk meeried siapa tau ada yang cocok di tempat ibu kamu emang dimana sich tokonya???
Wah kwe ki wani banget..>ga ada awan ga ada mendung langsung petir disertai hujan, ga kaget calon istrimu…?
gimana ngelamarnya kok ga dibahas..?