Jakarta - Surabaya - Jakarta
Ternyata perjalanan jauh dari jakarta - surabaya - jakarta sangat melelahkan sekali. tetapi kelelahan ini baru terasa ketika telah sampai di jakarta dan langsung masuk kerja. duuh capeknya, pingin rasanya dipijat-pijat. tapi siapa yang mau mijat ya?
Ada kejadian menarik ketika kemaren di Surabaya, tepatnya di Plaza Tunjungan(TP). saat itu aku dan istriku sedang jalan-jalan di TP hanya untuk melepas lelah dan hanya mengekspresikan sifat narcis kita berdua didalam photobox :p (daripada narcis ke orang lain).
Seorang ibu dan membawa putrinya (atau putranya, ga jelas. kaya’nya sih cewek) tiba2 menguntit (tepatnya mengikuti) kami berdua, “mas..mas dompet saya hilang”. aku sudah melihat gelagat yang ga normal ketika ibu tersebut bilang gitu, “ada apa mbak?” sambil berusaha acuh dan kita terus berjalan, sebenarnya dalam hatiku pengen mengatakan “emang gue pikirin, dompet ilang ya lapor polisi”.
“dompet saya hilang, boleh minta duitnya buat pulang ke malang mas?”. sahut ibu tadi, kucoba agak perlahan dan istriku pun mencoba berbalik melihat ibu tadi. “kalo dompet ilang, coba lapor polisi atau satpam mbak.” kucoba ngasih tau ibu tadi, “sudah mas, tapi ya cuman melapor. tapi saya mau pulang ga punya duit”.
Ada dua gejolak dalam pikiranku sebenarnya waktu itu, nolong ibu ini atau cuek terus jalan, nipu atau nggak ya dia?.
mulai kukorek keterangan si ibu tadi, dari mimik wajahnya dan pupil matanya - yang menurut info dari sebuah majalah, orang yang menipu, cenderung pupil matanya semakin membesar,mengecil,membesar,mengecil dst - dan sempat terjadi perdebatan kecil waktu itu antara aku dan ibu tadi (cieee kaya’ anggota dewan aja debat).
“benar ta mbak?” sampai berkali-kali kubertanya(biar yakin) dan melihat wajahnya. ibu tadi menjawab “iya” dan mulai kulihat, butir-butir kristal air hampir muncul dari matanya.
Akupun mencoba memberi penjelasan persis ketika orang tua ngasih tau kita waktu kecil “Mbak, kalo bener nanti saya kasih berapa ongkosnya?, tapi kalo nipu lebih baik jangan nipu mbak. mending minta saja, nanti saya kasih kok daripada nipu, dosa”.
“Kalo saya nipu, pasti ada balasannya mas, biayanya 15ribu mas”. aku pun meminta uang kepada istriku,
“ada duit 10 ribu Dik?”, istriku pun mengeluarkan selembar duit 10 ribu. ketika kukasihkan, kucoba bertanya lagi. “Mbak bener nggak ini? kalo sampe menipu hati2 ya?”. “Demi Allah Mas”, sudah cukup bagiku ketika ibu tadi mengucapkan Sumpah atas nama Tuhan.
“10 ribu kurang ya mbak?”.
“Kurang mas, 15 ribu” jawab ibu meyakinkan.
kucoba korek2 jaketku, aku menemukan duit 5 ribu.
“Terima kasih mas!, semoga rejekinya semakin melimpah” terlihat wajah ibu tersebut gembira sekali, dan mengucapkan terima kasih berkali2. “sama2 mbak, ati2 dijalan ya mbak”. sahut aku dan istriku sambil melihat ibu tadi pergi.
kita pun berjalan2 dan menemukan photobox yang mahal didaerah sekitar timezone, setelah poto2, jalan-jalan sebentar dan sempat kehilangan arah di TP - maklum kita berdua punya sifat yang sama, tidak tau arah
- dan sepulangnya dari TP mampir sebentar di Eskrim Zangrandi. wusss,, ternyata pacaran after married romantis banget (meskipun kita bedua dulu pacaran, tapi ga pernah jalan-jalan berdua)
Kenapa aku merasa ibu tadi menipu? aku pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya, ketika berada di bungurasih untuk menjemput temanku. waktu di musholla, tiba-tiba ada orang yang matanya sambil berkaca2 seakan2 menangis dan pinjam uang kepadaku karena dompetnya kecopetan dan mau pulang ke malang (yah lagi-lagi malang). aku pun berusaha mengorek keterangan dulu, apakah ini penipuan atau bukan. kesalahan terbodohku waktu itu terlalu percaya dengan air matanya, padahal menurut penglihatanku air mata tersebut berasal dari kucekan tangannya yang keras di matanya. apalagi ketika dia bertanya identitasku karena dia hanya pinjam uang dan akan dikembalikan. Akupun tidak berpikir ketika kusebut semua identitasku, si bapak tidak menulis identitasku sama sekali, mana mungkin dia tau aku.
setelah bertanya ngalor ngidul, akupun memberikan uang dengan jumlah yang lumayan besar, jika dihitung bisa 2x PP dari surabaya ke malang. akupun sadar sibapak menipu ketika setelah kukasih uang, dan melihat tiba2 sibapak hanya bilang terima kasih, dan langsung cepat2 ngeloyor pergi.
“SIALAN!!” dalam batinku, tapi aku ga bisa apa-apa sibapak-pun mulai hilang dari pandanganku, semoga bapak tadi tidak melakukan hal-hal seperti ini lagi. dan akupun masih menunggu sampai sekarang kira-kira dia bakal membayar hutangnya ga ya?
Kenapa aku bisa mengalami hal seperti ini kedua kalinya? apakah wajahku memang innocent banget dan lugu banget ya, sampai2 terjadi hal yang sama dua kali, dan apakah hal semacam ini adalah modus operandi sebuah penipuan juga. Kalo memang niat untuk minta uang lebih baik minta apa adanya daripada meminta dengan cara nipu, sudah minta menipu lagi.
harga dirinya terlalu tinggi mungkin untuk meminta. wkwkwkw.
Diantarkan saja ke tempatnya gimana?
Selama tidak ada bukti akan menipu, ya dikembalikan ke posisi awal, mereka jujur. Kalau kasus pertama, panjenengan kan ada bukti bahwa si Bapak kemungkinan besar menipu, dengan tidak ditulisnya alamat panjenengan. Kalau kasus kedua?
mungkin wajahmu wajahnya orang pelit. jadi mereka berpikir, kalo minta gak mungkin dikasih. langsung tipu aja. hehehe…
btw, emang km bisa romantis???
syukur!!!!!!!!!!!!!!!!!!
makane ati2 lek
yo ngono iku nek gk mampir sik
nang sing duwe suroboyo
@menying
ampuun..ampuun nying,
hari jumat brangkat, sabtu datang disby ahad udah kembali lagi. awak ndewor ga sempet mampir2, kene sek lagi pgn bulan madu nying. hi2x
@eko gino
aku mek pelit nang awakmu tok kok no.. wekekeke