Surgeon
Kali ini aku punya pengalaman yang sangat berharga sekali, pengalaman seumur hidup semoga tidak terulang lagi. Amiin.
tepat hari jumat 2 minggu lalu, aku divonis oleh dokter dari RSAL Mintohardjo daerah BenHill bahwa aku harus DIOPERASI, ya benar DIOPERASI, perutku harus diedel2 untuk membuang salah satu bagian dari tubuhku yaitu apendiks ku atau biasa dikenal dengan umbai cacing a.k.a usus buntu.
karena terkena vonis, akupun nekat pulang ke surabaya naik pesawat pergi ke bandara dalam keadaan yang benar-benar menyakitkan, dibuat jalan pun terasa banget sakitnya, tapi pikiranku saat itu hanya aku harus pulang karena semua keluarga di Surabaya, kasian kalo mereka harus ke jakarta menunggu aku.
Buruknya, aku naik pesawat yang sering kali terjadi kecelakaan.. meskipun dalam pikiranku lebih mending pesawat ini jatuh dan aku mati (setidaknya dapet asuransi
) daripada dioperasi di jakarta.
Sampai di Surabaya, terjadi kecelakaan kecil, sopir taksiku menabrak seorang anak kecil yang lagi naik sepeda, alhamdulillah ternyata si anak tidak apa-apa, padahal kesakitanku waktu itu sungguh terasa sampai tulang Alhamdulillah lagi, tidak ada urusan yang berbuntut panjang, perjalanan pulang kerumah pun berjalan lancar.
Tepat pukul 8 malam aku siap dioperasi di RSU Dr. Soetomo, ketika dioperasi aku dalam keadaan 1/2 sadar meskipun separuh tubuhku sudah terkena anestesi, tapi aku merasakan sayatan2 pisau bedah yang membelah perutku, mengotak-atik ‘jeroan’ ku, benar-benar terasa sabitan2 pisau bedah dan jarum jahit. bahkan ketika operasi pun ga tau kenapa jantung ku berdetak cepat sekali, bahkan dalam pikiranku saat itu. Ini saatnya-ini saatnya, ini saatnya aku akan menghadap Ilahi, kesakitan didadaku terasa banget, tapi apa daya separuh badanku ga bisa bergerak tetapi diriku ga bisa tidur karena ketakutan yang luar biasa.
Bahkan ketika masuk ruang operasi, tubuhku menggigil ga karuan dan tidak pernah aku merasakan semenggigil ini. Sungguh luar biasa dinginnya waktu itu, ditambah kejadian-kejadian mengerikan seperti pemasangan deteksi detak jntung yang hanya pernah kuliat di filem-filem dan terangnya lampu2 operasi, ternyata ‘ritual’ operasi tidak secepat yang kukira, harus ada penginfusan berbagai macam jenis infus, pembersihan lambung yang cukup menyakitkan, hidungku dimasukkan selang kira2 berdiameter 30-50 mm, selang tersebut sampai masuk ke lambung. dan dipompa lah semua bakso malang ‘oasis’ yang tadi siang kumakan di bandara sukarno hatta, semua makanan kuliat dengan mata kepala ku sendiri melewati selang yang dimasukkan dokter.
Alhamdulilah semua sudah berlalu, sudah 2 minggu yang lalu dan sekarang hanya
bekas operasi yang akan selalu mengingatkanku pada kejadian itu. itulah pengalamanku, pengalaman ketika hanya Tuhan yang dapat menolongmu, bukan siapa2, bukan dokter bedah bukan keluarga. Meskipun sebuah pengalaman yang menyedihkan tetapi aku mendapatkan hikmahnya bahwa aku bisa bertemu istriku selama 2 minggu (ini pertemuan terlama dengan istriku biasanya paling cuman 1 minggu, maklum LDR
) dan tepat hari ini bekas-bekas lukaku terkadang masih terasa nyeri, tetapi tenang saja, dikosku sekarang ada istriku yang dengan senantiasa merawatku setiap hari mengganti perban lukaku, sampai lukaku benar2 kering dan selalu mengingatkanku minum obat
Tapi ada hikmahnya kan? Bisa sering-sering ketemu nyonya.
Kamu pulang ke Surabaya beberapa waktu yang lalu itu operasi toh.
Salam kenal, senang mampir disini. Mampir juga yah, di blog kami. Tinggal klik.
Syukur pada Allah, bagaimanapun anda telah selamat dan sehat walafiat. Sekecil apapun tragedi yang menimpa anda, disitu ada rahmat Allah.
Ass…
Subhanallh… sebuah kisah yang sarat akan hikmah.. semakin mengingatkan aku bahwa kesehatan adalah hal terpenting dalam hidup ini…
Salam kenal ya Pak…?